UNIK

Translate

Cerita Ngen**T : Tidur Dengan Pengemis (part 2)


esoknya bi inem sudah menyiapkan sarapan seperti biasa,akupun berangkat seperti biasa.
Pada hari sabtu sore aku mengajak tika untuk jalan 2 sambil menanyakan kejadian kemarin.
“Tik,kamu yang ngintip waktu om dan ibumu lagi di kamar yaa?”
Iya om, maafin tika ya omm”
Ohh enggak papa”
Eh.. om emang om dan ibu lagi ngapain sih”
Kamu belum pernah ngelihat seperti itu yaa”
Belum om”
Memang kamu mau coba”
Ah enggak om takutt”
Emang kenapa
Takut sakit “
Enggak kok, coba aja lihat ibu kamu kelihatan keenakan “
Iyaya om
Makanya entar malam kita coba yuk biar tahu rasanya”
Iya deh omm”
Jam 7 30 malam aku pulang tapi sudah tidur di depan tv yang masih menyala.
Kusuruh dia untuk pindah tidur.
Diapun mengajak anaknya untuk tidur bareng tpi tikanya enggak mau
Aku dan tika lalu menonton tv .
Sekitar ½ jam kemudian aku mencoba mengintip bibi inem apa dia sudah tidur apa belum?
Ternyata dia sudah tidur nyenyak dan ter dengar dengkuran halus dari kamarnya
Lalu segera aku kembali
ganti nonton film,yaa
langsung di layar terpampang beberapa adegan film
Tiba-tiba, "Akh..! tika memekik ketika di layar TV terlihat adegan seorang laki-laki memasukkan penisnya ke vagina seorang perempuan. .
seperti ini loh yang saya dan ibumu melakukan di kamar

Selama menonton Nina terlihat meresapi setiap adegan itu. Perlahan namun pasti Aku dekati Nina dan duduk tepat disampingnya.
"Mau ndak om ajarin yang kayak begituan. Aysik, lho! akan rasakan kenikmatan surga. Lihat aja cewek yang di TV itu. Dia kelihatannya sangat menikmati adegan itu. Mau ndak”
“Mau om tapi kalau sakit udahan yaa”
“tapi bajunya dilepas seperti di filmyaa”iya omm
langsung kulepas bajunya dan aku juga melepaskan baju hingga kmi telanjang bulat Aku langsung membaringkan tika di Sofa dan mulai melumat bibirnya kembali sambil tanganku dengan lembutnya meremas-remas susunya . tika mulai mendesah-desah tak karuan.

Tak puas hanya meremas, semenit kemudian sambil tetap meremas-remas, Aku menghisap puting susu yang berwarna merah muda kecoklatan itu, bergantian kiri dan kanan.

"Oh.. om.. om..! Enak se.. ka.. li.. oh..!" desah tika yang membakar gairahku. Jilatanku turun ke perut dan pusar, lalu turun terus sampai ke gundukan kecil milik tika yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang masih sedikit.

"Ah.. Geli sekali, om.. Oh.. nikmat..!" desah tika waktu Aku jilat Kelentitnya yang mulai mengeras karena rangsangan hebat yang aku ciptakan. Tanganku tak pernah lepas dari Susu tika. Tiba-tiba, tika memekik dan melenguh tertahan sambil mengeluarkan cairan vagina yang banyak sekali.

"Akh.. ah.. oh.. e.. nak.. om.. oh..!" Itulah orgasme pertamanya. Aku langsung menelan seluruh cairan itu. Rasanya gurih dan nikmat.

"Gimana Enak, tik?" tanyaku sambil mencubit puting susunya.

"Wah, om! Nikmat sekali. Rasanya tika terbang ke surga." Jawabnya sambil meraih baju dalamnya. Melihat itu, Aku langsung mencegahnya.

"Tunggu, Masih ada yang lebih nikmat lagi." Kataku.

"Sekarang kakak mau ajarin tika yang kayak begitu" sambil menunjuk adegan di TV dimana serang perempuan yang sedang menghisap penis laki-laki.

"Gimana, mau?" Tanyaku menantang.

"Oke deh!" tika menjawab dan langsung meraih penisku yang masih tertidur. tika mengocok perlahan penisku itu seperti yang ada di TV. Lalu dengan malu-malu Dia memasukkannya ke mulutnya yang hangat sambil menyedot-nyedot dengan lembut. Mendapat perlakuan demikian langsung aja penis ku bangun. Terasa nikmat sekali diperlakukan demikian. Aku menahan Air maniku yang mau keluar. Karena belum saatnya. Setelah kurang lebih 15 menit diemut dan dibelai olah tangan halus tika, penisku udah siap tempur.

"Nah sekarang pelajaran yang terakhir" Kataku. tika menurut aja waktu Aku angkat Dia dan membaringkan di atas karpet. tika juga diam waktu Aku mengesek-gesek penisku di mulut vaginanya yang masih perawan itu. Karena udah kering lagi, Aku kembali menjilat kelentit Nina sampai Vaginanya banjir lagi dengan cairan surga. tika hanya pasrah saja ketika Aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

"Ah.. Sakit, om.. oh.. om..!" jerit tika ketika kepala penisku menerobos masuk. Dengan lembut Aku melumat bibirnya supaya Nina tenang. Setelah itu kembali Aku menekan pinggulku.

"Oh.. tika.. sempit sekali.. Kamu memang masih perawan, oh..!" tika hanya memejamkan mata sambil menahan rasa sakit di vaginanya.

Setelah berjuang dengan susah payah, Bless..!
"Akh.. om.. sakit..!" tika memekik tertahan ketika Aku berhasil mencoblos keperawanannya dengan penisku. Terus saja Aku tekan sampai mentok, lalu Aku memeluk erat tika dan berusaha menenangkan Dia dengan lumatan-lumatan serta remasan-remasan yang lembut di payudaranya. Setelah tenang, Aku langsung menggenjot tika dengan perlahanlahan .”masih sakit tika “
Sedikit om”lalu kuhentikan lagi
Lalu kugoyang lagi,diapun mulai merasakan ke
rpelukan menikmati indahnya orgasme. Setelah penisku menciut di dalam vagina Nya, aku mencabutya. Dan langsung terbaring di samping tika. Kulihat dia masih tersengal-sengal. Sambil tersenyum puas, kamipun beristirahat sebentar
kugendong dia ke tempat tidurku
enakan
"Oh.. e.. oo.. hh.., ss.. ah..!" Nina mendesah tanpa arti. Kepalanya kekanan-kekiri menahan nikmat. Nafasnya mulai memburu. Tanganku tak pernah lepas dari payudara yang sejak tadi keremas-remas terus. Karena masih rapat sekali, penisku terasa seperti di remas-remas oleh vaginanya,

"Oh.. tik, enak sekali vaginamu ini, oh..!" Aku mendesah nikmat.

"Gimana, enak? nikmat?" tanyaku sambil terus menggenjot nya.

"enak.. sekali, om.. oh.. nikmat. Te.. rus.. terus, om.. oh..!" Desahnya

Setelah kurang lebih 25 menit Aku menggenjot tika, tiba-tiba tika mengejang.

o… ooom..! tika udah enggak tahan. tika mau pi.. piss.. oh..!" Kata tika sambil tersengal-sengal.

"Sabar, tik! Kita keluarkan Bersama-sama, yah! Satu.." Aku semakin mempercepat gerakan pinggulku.

"Dua.., Ti.. nggak.. oh.. yess..!" Aku Menyemburkan Spermaku, croot.. croot.. croott..! Dan bersamaan dengan itu tika juga mengalami orgasme.

"Akh.. oh.. yess..!" Tika menyiram kepala penisku dengan cairan orgasmenya. Terasa hangat sekali dan nikmat. Kami saling berpelukan dan menikmati indahnya orgasme setelah agak lama diapun tertidur .kugendong dia kekamar ku 


Paginya aku terbangun gara2 ada yang nangis akupun menghampirinya Tika ini memelukku dan akhirnya menangis.
"Kenapa menangis tik..,
"Tika nggak mau pipis.., memek Tika perih Ndoro..".

Aku sempat berpikir, mungkin rasa perih di memeknya itu disebabkan luka ataupun lecet di selaput daranya yang semalem baru saja aku perawanin.
"Ayo pipis lagi.., nanti perut Tika bisa sakit lho kalau nahan pipis..".
"Pokoknya Tika nggak mau pipis lagi.., Tika takuut..".

Aku sendiri bingung, kalau terlalu lama pipisnya ditahan, pasti perut tikaku akan sakit. Karena aku lihat wajah tikaku gelisah menahan pipisnya dan juga kedua tanganya memegangi memeknya agar pipisnya nggak menerobos keluar. Kadang-kadang Tika jongkok, terkadang berdiri, dan aku pikir air seninya pasti sudah di ambang saluran vaginanya sehingga tikaku gelisah sekali. Sesekali badannya mengeliat dan wajahnya meringis.

"Ayo nduuk.., pipisnya dikeluarin lagi ya..".
"Nggak mau.., Tika nggak mau pipis lagi..!' Setelah itu tikaku nangis lagi sambil kedua tangannya masih berusaha memegangi memeknya agar pipisnya nggak keluar.
Kemudian Tika aku suruh duduk bersandar di klosetku.
"Ya sudah.., sini nduuk.., Tika duduk disini yaa..".
"Iya om.., tapi Tika nggak mau pipis lagi lho ..".
"Nggak .., coba tangannya dibuka jangan nutupin memeknya Tika..". Setelah memeknya terbuka, aku jongkok diantara kakinya dan aku lihat disekitar pahanya masih ada bekas darah keperawanannya yang sudah mulai kering. Akupun mulai menjilati bibir memeknya. Sesekali aku masukkan lidahku dan juga jari tengahku ke lubang memeknya.

"Ndoro.., memeknya Tika geli.. ndooroo..".
Aku senang sekali akhirnya tikaku bisa melupakan rasa perih di memeknya dan sekarang sudah berubah menjadi rasa geli-geli nikmat. Untuk menambah sensasinya, kedua tanganku meremas-remas kedua payudara mungilnya. Dalam hitungan menit saja, Tika sudah mulai mengeliat dan agak sedikit kejang-kejang. Badannya bersandar di sandaran klosetku dan kepalanya menengadah keatas.

“ooommm.., tii.. kaa.. mau pii.. piis..".
Tikaku akhirnya berkelejotan, badannya kedepan dan kebelakang bergantian, dan "Suur.. suur..".
Aku sendiri masih sibuk menjilati dan sesekali aku sedot air seninya. Setelah agak reda, badan Tika melemah dan kepalanya jatuh di punggungku.

"Gimana .., tadi pipisnya sakit nggak..".
"Nggak kok .om…tadi diapain sih., kok memek Tika nggak sakit lagi..".
"Nggak diapa-apain kok.., sekarang Tika mandi yaa..".
"Eh.. tadi kok minum pipisnya Tika.., apa biar memeknya Tika nggak sakit ya..".
Aku sendiri binggung mau jawab apa, trus akhirnya aku jawab saja kalau aku haus. Dan nggak disangka-sangka tikaku mau minum pipisku.

"om.., Tika juga haus.., Tika mau minum pipisnya ..".
"Jangan .. nanti Tika bisa muntah lho.. aku ambilkan air putih di kulkas yaa..".
"Nggak mau..! curang.. Tika nggak boleh gantian minum pipisnya om..". Sambil bicara begitu, tikaku mulai menangis.
Dasar tikaku ini memang masih kekanak kanakan dan sedikit manja.

Akhirnya Tika aku suruh jongkok dan membuka mulutnya lebar-lebar. Aku sendiri tidak tega mengencingi mulutnya, apalagi kalau sampai air seniku tertelan olehnya. Makanya hanya sebagian kecil saja air kencingku yang aku arahkan ke mulutnya dan sebagian besar aku arahkan ke lehernya agar tidak tertelan oleh Tika.
"Gimana.., udah nggak haus lagi khan ..".
"Tika nggak haus lagi .., pipisnya agak panas.., Tika suka banget

"Ayo .., sekarang Tika mandi bareng ya..".
Akhirnya aku sabuni seluruh badan Tika dan aku keramasi juga rambut panjangnya. Tikaku sendiri juga tidak mau ketinggalan ikut menyabuni dada, perut dan juga burungku.
"om.., kontolnya kok keras banget sih..".
Sebenarnya penisku sendiri sudah tegang sekali saat aku menjilati memeknya Tika tadi. Hanya saja untuk menyetubuhi tikaku ini, aku nggak sampai hati, takut tikaku akan kesakitan lagi. Tetapi Tikaku ini memang agak manja, sambil menyabuni kontolku, terkadang dikocok-kocok. Dan yang bikin aku gemas adalah saat burungku digoyang kekanan-kekiri, seperti mainan saja.

"Iiih.. lucu banget kontol om.. seperti ayunan..".
Aku sendiri hanya bisa senyum-senyum dan berusaha untuk tidak menggaulinya. Diberi angin begitu, tikaku semakin membuat aku tambah gemas. Ujung jarinya diusapkan di kepala penisku, dan di atasnya ditaruh busa sabun, habis itu terus ditiup lagi.
Terus penisku diguyur air, setelah bersih terus kepala penisku diliatin lamaa sekali. Bahkan kadang-kadang kepala penisku ditekan dengan Ibu jari dan jari telunjuknya sehingga lubang kontolku agak terbuka.

"Iiih.. lucu banget deh.. ..".
Aku sebenarnya gemas dan juga agak marah, kontolku dijadikan mainan seperti itu. Sedangkan Tika, aku perhatikan sangat senang sekali dengan mainan barunya itu.
"om. pipisnya.. keluarnya dari sini ya..". sambil tangan tikaku menunjuk lubang penisku.
Aku yang akhirnya tidak tahan lagi langsung melumat dan mengunyah bibir Tika sambil kedua tanganku meremasi payudaranya. Sedangkan tikaku sendiri kaget sekali, disaat dia lagi asyik-asyiknya mainin kontolku, aku dengan gemas langsung mencumbuinya.

"om.. Tika kan mau mandi.. kok bibir Tika diciumin seperti semalem itu..".
"Iya n.. om sayang sama Tika.. sekarang Tika nungging yaa..".
"Memangnya.. Tika mau diapain ..".
"Sudahlah.. nungging aja . enak kok..".
Karena aku sudah benar-benar horny, langsung saja aku tusukkan kontoku ke lubang memeknya. Aku lihat tikaku memang agak meringis, tetapi tetap saja aku pompakan kontolku keluar masuk vaginanya. Nggak sampai 15 menit, aku lihat tikaku sudah kejang-kejang sambil kepalanya digoyang-goyang sehingga rambut panjangnya berantakan nggak karuan dan aku rasakan kontolku dibasahi air mani hangatnya. Aku juga nggak lama kemudian "Croot.. croout.. cruut..!". Aku masukkan lagi pejuhku ke liang vaginanya.

Terus aku peluk dan kulumat lagi bibir mungilnya. Setelah aku mandiin Tika, terus aku gendong ke kamarku. Aku sendiri terus berpakaian . Dan segera keluar bareng . tak berapa lama bi inem bangun dan segera menyiapkan makanan.
Kejadian ini terus berlangsung cukup lama sekitar 6 bulan setelah kejadian bi inempun bilang bahwa dia hamil.Akupun sempat bingung tpi juga senang .
Pada saat melahirkan dia mengalami pendarahan yang cukup hebat hingga mengakibatkan dia meninggal tpi anak kami selamat.Hingga akhirnya aku dan tika yang membesarkannya 


http://www.semprot.com

Cerita Ngen**T : Tidur Dengan Pengemis (part 1)

 
Sebenarnya peristiwa ini terjadi secara tidak sengaja. Saat itu, aku bermaksud kerja lembur di Kantor karena ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan, selain itu tentunya karena tuntutan deadline yang mendesak dari pimpinan.
Jam 14.30, keadaan kantor sudah tidak terlalu ramai, karyawan lain satu persatu mulai meninggalkan kantor. Karena rencana ingin lembur, maka aku keluar dari kantorku untuk mencari minuman dingin dan sedikit cemilan. Di depan kantorku ada toko sederhana. di sanalah aku membeli makanan dan minuman untuk keperluanku lembur malam ini. Namun ada sesuatu yang menarik perhatianku, yaitu seorang Ibu berpakaian lusuh yang duduk di depan gerbang kantor. Bersamanya ada seorang anak kecil, mungkin usianya baru 1o atau 11 tahun. Karena merasa iba dengan keadaan mereka, aku membeli beberapa bungkus roti lebih yang rencananya untuk ku berikan pada mereka.

Setelah semua pesananku telah ku peroleh, ku tinggalkan toko tersebut dan mendatangi perempuan dengan anak kecil itu. Saat berada di hadapan perempuan yang duduk di depan kantor itu, ada pikiran lain yang ada di kepalaku, karena secara tidak sengaja pandanganku masuk ke sesuatu benda yang berada di bagian dalam pakaiannya yang sedikit terbuka. Payudara yang sepertinya tidak terbungkus BH itu begitu jelas terlihat saat aku berdiri di hadapan mereka. Adanya dorongan situasi dan keadaan yang sangat mendukung, maka ku rubah rencanaku.

“Ibu..! Ini saya punya beberapa makanan. Kalau Ibu mau, kita bisa sama-sama makan di ruangan saya”. Begitu kataku sambil memberikan uang Rp.1000,- perak ke tangannya.

“Terima kasih, Pak! kalau boleh kami makan di sini saja…” jawab perempuan itu.

“tidak apa-apa kok, Bu! sekali-kali kita makan di ruangan saya, ya! kalau Ibu mau, Ibu bisa ikuti saya…” begitu jawabku sambil beranjak meninggalkan perempuan itu tanpa memberinya roti yang kujanjikan. Aku terus berjalan menuju pintu masuk kantorku sambil terus berharap perempuan itu menerima ajakanku. Saat aku membuka pintu kantor dan berencana menutupnya kembali, ku lihat perempuan itu berjalan dengan langkah agak cepat sambil menggandeng anak kecil yang bersamanya tadi. Aku hanya tersenyum dan dalam hatiku berkata, “akhirnya kau masuk dalam jebakanku…!!!”

Dengan penawaran yang sopan, ku ajak mereka ke ruanganku dan ku layani mereka seperti tamu. Setelah perempuan setengah baya itu berada di ruanganku, aku kembali ke luar untuk mengunci pintu depan kantor, lalu masuk kembali ke ruanganku setelah ku pastikan semua keadaan aman dan terkendali.

“Ini makanan buat Ibu dan ini buat ade…!” sapaku sambil memberikan sebungkus roti untuk masing-masing mereka

“Makasih banyak ya, Pak!” jawab Ibu itu, sambil membuka bungusan roti itu dan memberikannya pada anak kecil di sampingya. Dalam posisi berhadapan seperti layaknya tamuku, kucoba untuk memulai percakapan.

“ngomong-ngomong.. Ibu tinggal di mana?”
“kami tidak punya tempat tinggal lagi, Pak! kebakaran bulan lalu telah menghanguskan gubuk tempat biasa kami tinggal…”
“Ooh! jadi kalau malam nginap di mana, Bu?”
“kalau malam, ya di jalanan aja, Pak! kadang di depan toko, kadang di trotoar, di mana saja lah, asal bisa tidur.”
“ini anak Ibu?”
“Ya!”
“Suami IBu dimana?”
“Suami saya, sudah lama meninggal… O ya! makasih atas makanannya ya, Pak!”

Tiba-tiba wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan kembali memegang tangan anaknya untuk meninggalkan ruanganku. Tetapi rencana mereka ku tahan.

“Ibu! ini saya punya uang Rp.10.000,-”
“Untuk saya, Pak?”
“Iya! Tapi saya memberikan ini dengan syarat…”
“Maksud Bapak?”
“Syaratnya, Ibu dan anak Ibu temani saya lembur malam ini… sekalian malam ini, Ibu tidak perlu tidur dijalan, Bu!”
“Ya, saya mau, Pak!”

Akhirnya, perempuan itu bersedia bermalam di kantorku. Sambil aku mengerjakan beberapa tugasku yang belum selesai, aku meminta perempuan itu untuk sedikit beraktivitas membersihkan ruanganku dan ruangan utama di kantorku. Sekitar pukul 20.00, perempuan itu tertidur di sofa bersama anaknya. Melihat sosok perempuan yang sedang tertidur, keinginanku untuk memulai rencanaku semakin tak tertahan. Ku dekati mereka, dan duduk di samping perempuan itu lalu ku guncang pelan tubuhnya untuk membangunkannya. Perempuan itu terbangun dan terkejut…

“Bapak!?”
“Ssst..!! jangan keras-keras, nanti anak Ibu bangun…”
“Ada apa, Pak?”
“Saya akan memberikan Rp.50.000,- jika Ibu mau melayani saya malam ini…”
“Maksud Bapak?”
“Maksud saya ini….” Ku rangkul tubuhnya dan ku remas payudaranya yang ternyata memang tidak ditutupi BH. Wanita itu diam merasakan perlakuanku terhadapnya, lalu tiba-tiba ia berkata dengan nada berbisik.
“Rp.50.000,- ya, Pak?”
“Iya! mungkin lebih jika Ibu mampu melayani saya sampai puas….”
“Baik, Pak! Apapun yang Bapak minta, saya mau…”

Akhirnya, ku ajak perempuan itu ke kamar mandi, ku lepaskan seluruh pakaianku dan pakaiannya. Di bawah guyuran air dan busa sabun, kejelajahi seluruh tubuhnya. Sepertinya wanita ini juga menikmati setiap sentuhanku di tubuh bugilnya. Terutama saat jariku mulai menerobos masuk ke dalam liang vaginanya yang ditumbuhi bulu lebat, ia mendesah tak karuan menahan sensasi kenikmatan yang pastinya dia rasakan.

Permainan belum selesai di kamar mandi itu, karena ku ingin melanjutkan di tempat lain yang lebih kering. Ku baringkan tubuhnya di atas karpet dalam ruangan kerjaku, dan ku buka kedua pahanya, lalu ku masukkan batang penisku ke liang vaginanya. Kembali sensasi kenikmatan birahi mengalir dalam darahku dan darahnya. Sampai akhirnya ia mengejang pertanda bahwa ia telah mencapai klimak.dan akupun tak berapa lama akhirnya keluar juga kutekan ke dalam vaginanya ohh nikmat sekali. dan akupun terbaring disampingnya tak berapalama kami pun mandi bersama
"maaf bu bila ibu mau ,ibu bisa tinggal ditempatku saja."bekerja sebagai pembantuku"
"iya den ibu mau"
Dan akhirnya kamipun pulang bersama di rumahku 


Dari informasi yang aku dapatkan didalam mobil selama perjalanan pulang, bibi ini ternyata ditinggaklkan suaminya saat mengandung anaknya Tika, bibi ini yang ternyata namanya Inem, usianya sekitar 30 tahun, dan anaknya si Tika umurnya 12 tahun Tika sempat lulus SD,
Setelah sampai dirumah, . Ternyata bi inem dan Tika tidak membawa baju ganti sehingga setelah mandi baju yang dipakainya ya tetap yang tadi. Padahal baju yang dipakai keduanyasudah tidak layak untuk dipakai lagi. Simbok memakai daster yang lusuh dan sobek disana-sini sedangkan Tika sama saja lusuh dan penuh jahitan disana sini. Besok yang kebetulan hari minggu, aku memang mempunyai rencana membelikan baju untuk mereka berdua.
keduanya aku suruh tidur di kamar belakang. Sekitar jam 10 malam setelah aku selesai nonton acara TV yang membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka. Ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yang tersingkap sampai ke pinggang. Gara2 melihat paha yang betul-betul mulus dan dibalik CD nya yang lusuh dan sobek dibagian depannya terlihat dengan jelas jembutnya yang tebal dan hitam. Pikiranku langsung melayang dan kontolku langsung berontak.
Pelan2 langsung kudekati dia
"bi inem bangun bu"
"ada apa den"diapun bangun sambil merapikan pakaiannya
Bikinin saya kopi dong bi,saya tunggu dikamar, yaa"
baik den "
sayapun pergi ke kamar aku dan langsung telanjang dengan hanya berselimut, tak berapalama bibipun datang
sini,bi taruh dekat meja saya,”
dia pun meletakkan disamping saya langsung saya banting ke kasur saya
dan langsung saya telanjangi. Kebetulan dia hanya mengenakan daster . Kami sekarang sudah dalam keadaan telanjang bulat.

Kami bergulat dengan ganas di atas tempat tidurku. Saya mencumbu bi inem. saya sudah tidak sabar dan langsung mengarahkan batang kemaluan saya ke lubang vaginanya yang belum siap. dan sewaktu penis saya mulai tenggelam ke dalam vaginanya, terasa agak dipijat-pijat.
"Aduh den sakit!" desahnya saat itu.
Saya mendorong sedikit, dan "Bless..!" tenggelam seluruh batang kemaluan saya ke dalam vaginanya.

"Aduh..!" katabi inem sewaktu ujung penis saya menyentuh dinding rahimnya.
maaf deh bi abis nafsu ngelihat bibi tadi".
Pelan-pelan batang kemaluan saya mulai saya majumundurkan.
masih sakit bi"
sedikit den”
Saya melaju dengan pelan dan lembut. Tidak berapa lama bibi pun mulai mengimbangi dari bawah.
""Akh.. ah.. huss.. terus..!." itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya

10 menit sudah kami saling berpacu. Tidak puas dengan gaya pertama, kami melanjutkan ke gaya kedua. Sekarang aku meminta posisinya berada di atas. saya langsung saja mencabut dan tidur telentang. Sekarang dia mengangkangi batang penis saya dan mengarahkannya ke vaginanya.
Kemudian, "Husst.. akh.. bless..!" masuk semuanya tanpa sisa.
Saya merasakan seakan-akan terbang ketika digoyangnya pinggangnya dengan liar.
"Plek.. clok.. kuclok..!" begitulah terdengar suara dari hasil peraduan antara paha saya dengannya.

10 menit sudah kami melakukannya, . Kami mengejar kenikmatan yang sangat dalam saat itu (cuaca saat itu sangat mendukung). Kepala batang kemaluan saya ngilu rasanya. Bi inem pun sudah mulai liar, rupanya dia sudah mulai mencapai orgasmenya , sehingga mulai banjir lagi dan terasa semakin licin dan geli terasa dinding vaginanya memijat-mijat penis saya.

Hanya berjalan sebentar, terasa sudah berada di kepala penis saya lahar yang mau menyembur.
"Crot.. crot.. cret..!" saya semburkan air kenikmatan saya ke dalam rahimnya diapun ambruk disampingku
Sebentar kami terdiam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang barusan kami capai lalu saya memeluknya makasih ya nem”
lalu kami tidur dengan berpelukan  

Setelah selesai mandi. Aku lihat di meja makan sudah ada makanan lengkap dan aku pikir pasti bik Inem yang masak dari bahan-bahan yang ada di kulkas.
"Selamat pagi.., Tika..".
"Pagi om..".

"Tika.., mana Ibu kamu, kok nggak kelihatan..".
"Ibu lagi mandi om.., om sarapan bareng yuk udah lapar nih”.".
"Iya ..,kamu duluan aja aku tak panggil ibu kamu dulu”
Aku dengar di kamar mandi belakang ada suara orang yang lagi mandi. Aku ke kamarku untuk ambil handuk buat bi Inem. Terus aku menuju ke belakang dan kuketuk pintunya. bi Inem mungkin mengira yang mengetuk pintu adalah Tika sehingga pintunya dibuka lebar-lebar.

"Aaa.. deen..".
Bi Inemku berteriak keras banget sampai aku kaget. Dan yang bikin aku lebih kaget lagi adalah tubuh polosnya. Kepala bi Inem hanya bisa menunduk dengan wajah kemerahan menunjukkan rasa malu yang luar biasa. Tangan kanannya berusaha menutupi kedua payudara namun tidak bisa menampung semua kedua gundukan daging yang ada didadanya. Sedangkan tangan kirinya berusaha menutupi kemaluannya yang dipenuhi jembut yang luar biasa lebatnya.
aku sendiri cukup kaget karena ketika bersetubuh aku selalu keadaan tidak terlalu terang
Aku sendiri tidak beranjak dari pintu dan terus saja kuperhatikan bi Inem ini. Adegan ini berlansung agak lama, sampai bi Inemku sendiri nggak tahan aku liatin terus.
"Aaa.. deen..".
Sambil berkata itu, Mbok Inemku membalikkan badan berusaha menutupi bagian tubuh depannya.
Ayo cepetan sarapan udah ditunggu TIKA”
sambil kutowel pantatnya
Disaat dia masih terus membelakangiku, CDnya yang sudah lusuh aku ambil dari gantungan tanpa sepengetahuannya dan aku bawa kekamarku. Dikamar, ketika aku cium CDnya yang sudah tidak berbentuk itu, aduuh bau kewanitaannya sangat menyengat dan lagi-lagi aku mau muntah. Mungkin sudah berhari-hari tidak dicuci, ya karena hanya itu CDnya sehingga tidak ada gantinya.

Aku langsung ke meja makan ikut menikmati sarapanku bersama Tika . Sambil menyantap hidangan di meja, aku arahkan pandangan mataku ke kamar mandi belakang dan aku masih bisa mendengar suara bi Inem yang melanjutkan acara mandinya. Selang beberapa saat aku lihat kamar mandi sedikit terbuka dan aku perhatikan bi Inem kelihatan binggung mencari cdnya.

Setelah bi Inem mamakai baju dan ikut sarapan, aku pamit kepadanya untuk mengajak Tika belanja baju di mall. Hampir 2 jam aku belanja di mall untuk membelikan baju Tika dan bi Inem. Masing-masing aku belikan 4 stel baju. Tika aku belikan juga CD dan bra-nya tidak, karena aku pikir nanti hanya akan menghambat pertumbuhan payudaranya. Sedangkan bi Inem tidak aku belikan CD dan bra karena aku belum tahu ukurannya.lalu tak lupa ku beli juga obat kuat viagra

Ketika aku serahkan bajunya, Mbok Inemku kelihatan bahagia sekali dan aku minta untuk mencobanya. bi Inemku langsung lari kekamarnya, sedangkan Tika tanpa malu-malu mencoba satu-persatu bajunya di depanku. Aku sempat perhatikan bibir memek Tika masih membentuk garis vertikal.

Aku sendiri merasa ikut senang bisa membahagiakannya. Disaat aku sedang memperhatikan Tika dari arah kamar belakang muncul bi Inem dengan daster barunya. Aku sempat terpana, melihat lekuk-lekuk tubuhnya dibalik dasternya yang agak diatas dengkul dan pas banget dibadannya. Bongkahan bokongnya sangat sekal dan kedua tonjolan payudaranya sangat menantang untuk diremas.

Aku juga sempat melihat bi Inem menangis bahagia melihat anaknya senang.
"Matur nuwun deen.., bibi sudah dibelikan baju..".
"Iya bi.., sini duduk di sofa dekat aku..".
Sedangkan Tika sendiri sudah sibuk menonton film kartun dari vCD yang aku belikan tadi.
"bik.., maaf ya aku belum sempat membelikan CD dan bra buat kamu.., aku khan belum tahu ukurannya..".
"Nggak apa-apa Den.., CD bibi yang lama mana Den.., bibi mau pakai lagi..".
"Ada di kamarku bi.., ambil saja sendiri..".

Aku ikuti dia dari belakang, aku masuk dan dia kaget sekali.
"Deen..".
"Mbok CDnya kan sudah bau.., jangan dipakai lagi yaa.., nanti aku belikan yang baru”

Kemudian aku duduk disebelahnya dan mulai memeluk dia.
"Deen.., jangan Den.., bibikan jelek deen..".
bibi Inem ini memang gelandangan tetapi dengan rekan kerjaku mereka semua nggak ada apa-apanya.
"Siapa bilang bibi.., kamu masih cantik kok.., dan juga badan bibi masih seksi kok..".
aku ingin sekarang merasakan ngesek tanpa tergesa gesa
Akupun mulai membelai rambut dan wajahnya dan aku lihat dia hanya memejamkan matanya. Aku angkat dagunya dan aku mulai melumat bibirnya dengan rakus.dia mulai pasrah. kuremas tonjolan payudaranya. tangan saya perlahan-lahan saya arahkan ke bagian selangkangannya
Tangan saya mulai menyelinap ke balik pakaiannya. Saya kembali meremas-remas payudaranya secara langsung. Kali ini langsung menyentuh permukaan kulitnya. Saya lakukan sambil mencium lehernya dengan lembut. Suara desahan lembut mulai terdengar dari bibirnya. Disaat saya mulai meremas belahan memeknya,
agak sulit memang mencari lubang vaginanya karena jembutnya sangat lebat. Jari tengahku, saya tekan sedikit demi sedikit dan perlahan ke belahan kemaluannya .
Dia menatap mata saya.

"Deen.., bibi malu deenn..".
"Tenang saja bibi”
"Oh.. iya bibi.., aku cukur ya jembut kamu biar bersih..". Dia juga cuma diam sa
Aku ambil silet cukur dan menyuruhnya untuk tiduran. Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan mulailah aku kulucuti dasternya. Setelah itu pahanya aku kangkangkan, dibalik jembut lebatnya itu terdapat bongkahan daging merah dengan celah yang sempit dan dari situ tersembul seonggok daging kecil seperti kacang merah merekah yang mencuat keluar.
Aku pun mulai mencukur habis jembut Inemku sampai bersih dan aku cuci memeknya sampai bersih.
Kemudian aku suruh dia duduk di tengah ranjangku. Aku ambil kaca rias di meja dan aku suruh dia membuka pahanya. Terus aku taruh kaca riasku didepan memeknya. Aku suruh bibi Inemku untuk melihat vaginanya sendiri.
"Nem.., coba kamu lihat memekmu itu..".bersih enggak”
Segera saja bibi Inem memperhatikan memeknya dari kaca rias. Dia agak kaget melihat vaginanya sendiri. Mungkin baru kali ini dia melihat memeknya sendiri dengan jelas dan dia kaget kenapa bentuknya agak menggelembung di kanan kirinya, dan diatasnya ada daging kecil yang mencuat keluar.

Akhirnya dia sadar kalau aku juga ikut melihat memeknya dengan jelas.
"Deen.., bibic malu..".
Dan dia berusaha menutupi wajahnya yang memerah dengan memelukku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Aku peluk dan aku belai lembut wajah dan rambutnya. Terus aku lumat bibirnya, kuhisap-hisap mulut dan lidahnya, kujelajahi rongga mulutnya dengan lidahku. Air liur yang keluar dari bibirnya aku hisap. Air liur yang meluber dan membasahi pipinya aku jilati sampai bersih. Tanganku tidak mau tinggal diam dan ikut meremas payudaranya. Tangankupun mulai mengelus dan meremas-remas memeknya.

Akhirnya bi Inem aku baringkan dan aku jongkok diantaranya pahanya. Aku kangkangkan pahanya lebar-lebar dan aku mulai mainin memeknya. Terasa sekali memeknya sangat lembut dan empuk. Sesekali aku pelintir clitorisnya.
"Aduuh.. sakiit.. deen.. ooh.. gelii.. deen.. aacgh..".
Aku pun mulai mengelus dan menyedot memeknya dengan kuat. Setelah puas dibagian memeknya, Inem aku balikkan badannya sampai tengkurap. Akupun langsung meremas bongkahan montok pantatnya, aku jilati sampai bokongnya basah oleh air liurku, dan sesekali aku gigit hingga meninggalkan guratan merah di bokongnya. Aku sendiri penasaran dan agak jijik untuk menjilati anusnya Inem. Namun setelah aku buka lebar-lebar lipatan pantatnya, dan terlihatlah lubang kecil yang dikelilingi garis-garis keriput yang bentuknya melingkar.

Rasa jijik yang semula menghinggapiku berubah menjadi sebuah sensasi untuk menjilati dan menyedot terus tiada henti. Aku sendiri heran, kenapa daerah lipatan bokong Inemku bisa bersih, putih mulus dan baunya sangat khas.
"Aaa.. deen, geli deen.., jangan dijilati deen.., itu khan bau deen.., joo.. roochk.., deen..". Setelah aku puas,
kemudian aku telentangkan lagi Inemku dan aku sedot terus bibir memek dan clitnya.
"Deen.. sudah deen.. si Mbok mau pii.. piis deen..".
Dan tidak lama kemudian "Suur.. suur.. suur.." banyak sekali.. cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha untuk menelan semua air mani yan dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul Inemku ini. Aku mulai lagi memeras payudaranya yang kalau aku perhatikan jauh lebih putih dari wajahnya, bahkan urat-uratnya pun kelihatan jelas.
"Neem.., bokong kamu montok lho.., aku suka nem..".
"Iiih.., Adeen.., Inem malu Den.., itukan jorok deen..".
Tanganku pun memeras dan mulutku menjilati dan menyedot buah dadanya secara bergantian dengan lahap.
"Deen.., sudah deen.., jangan deen..".
Aku terus saja gigit pelan putingnya yang mulai keras. Kedua tangannya aku angkat ke atas dan terlihatlah kedua daerah ketiaknya yang sudah bersih dari rambut lebatnya. Aku jilati, aku sedot dan bahkan aku gigit sampai Inemku menggelinjang menahan geli di keteknya.
"Deen.., ooh.., deen..". Aku lihat Inem sudah mulai pasrah dengan mata terpejam.

Akhirnya aku berdiri di kasur, dan aku keluarkan kontolku yang sudah tegang. Begitu kontolku sudah aku keluarkan dari CDku, aku suruh Inem untuk memegangnya.

"Nem.. sekarang coba kamu pegang dan elus-elus kontolku..!"
Si Mbok pun jongkok diantara pahaku dan mulai mengusap-usap kontolku.
"Deen.., jembut Aden kok lebat banget sih deen..".
"Ya sudah.., sekarang Inem gantian cukur jembut Aden sampai gundul yaa..".
"Iyaa.., deen..". Inem pun mulai mencukur habis jembutku, dan bahkan rambut halus disekitar anuskupun ikut dicukurnya.
"Neem.., coba kamu emut kontolku..".
"Iiih adeen.., si Mbok jijik deen..".
"Eeh neem.., dicoba dulu yaa.., kamu nati pasti suka..".
Akupun mulai memasukkan kontolku ke mulutnya. Lidah dan air liur Inempun akhirnya membasahi kontolku dan rasanya hangat sekali.
"Iya neem.. terus.. neemm..".
Sesekali Inem melepaskan kontolku untuk mengambil napas.
"Adeen.., kontol adeen rasanya kok asin..".
Ya mungkin Inem sudah mulai merasakan precum yang keluar dari penisku.

Setelah puas kontolku diperkosa mulut Inem, aku merubah posisi dengan tidur tengkurap.
"Neem.., jilati bokong Aden yaa..".
"Iya deen.., tapi Inem jiik deen..".
Inem pun mulai menjilati bongkahan pantatku dan bahkan Inemku mulai menggigit agak keras, sehingga aku yakin banyak sekali cupang-cupang merah di daerah bokongku. Selang beberapa saat, aku mulai merasakan Inemku berusaha keras membuka lipatan pantatku. Kelihatannya Inem agak kesulitan. Sehingga aku merubah posisi menjadi nungging dan kedua kakiku aku pentang lebar-lebar.

Sekali lagi Inem membuka lipatan bokongku dan sepertinya Inem bisa melihat jelas daerah di sekitar lubang anusku. Aku sempat menoleh kebelakang dan kulihat Inem sambil menutup mulutnya tertegun agak lama melihat lobang anusku.
"Hayoo.., Inem lagi ngliatin apa.., kok kelihatannya suka banget..".
Inemku kaget dan malu sambil menindukkan wajahnya.
"Lii.. li.. liatiin.. itunya adeen.., iih Aden.., Inem jadi malu..".
"Neem.., jilatin lobangnya Aden jijik nggak..?, kalo Inem jijik ya nggak usah.., nanti kamu bisa muntah..".
"Inem nggak jijik kok Den.., bokong Aden bersih dan nggak bau.., lagian Aden tadi juga nggak jijik jilatin bokongnya si Mbok..".
Inempun mulai menjilati lobang anusku dan bahkan disedot habis sampai aku merinding geli. Kadang-kadang jarinya ditusuk-tusukkan ke lobang anusku dan mulutnya menjilati buah zakarku. Sambil merasakan geli-geli nikmat, aku terus perhatikan payudara dan memek montok Inemku yang terlihat diantara kakiku yang mengangkang. Aku lihat juga sudah banyak air liur Inem yang menetes diantara kakiku membasahi seprei.

Aku sebenarnya sudah diambang orgasme tetapi aku usahakan untuk tetap bertahan.
"Iiih Inem jorok.., kamu suka ya neem ama lobangnya Aden..".
Aku goda begitu, Inemku hanya bisa tersenyum MALU. Inemku masih terus saja menjilati dan menyedot daerah anusku dengan SABAR dan TELATEN
Tidak sabar aku langsung berdiri dan mulai mengocok kontolku ke mulutnya Inem. Tidak lama kemudian, aku rasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari penisku. Aku tarik kepala Inem dan aku kocok kontolku dimulutnya dengan cepat.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya "croot.. croouut.. croot.. cruuoot..!" Cairan pejuhku menyemprot dengan kencang dan tertelan oleh Inem dan hanya sedikit saja yang menetes dan jatuh menetes di leher dan payudaranya.

"Ihh.., Aden jorok.., kok pipisnya dikeluarin di mulutnya si Mbok..".
"Enak nggak..!, Inem suka yaa.., kok ditelan semuanya..". Inemku hanya tersipu malu dengan menundukkan kepalanya.
"Rasanya asin deen..".
"Ya sudah.., sekarang kamu tiduran sayang..". Kemudian aku terlentangkan
Hebat banget pengaruh Viagra ini padahal dari kemarin aku selalu kerja keras sama inem.he he
Aku pun mulai menindih tubuh Inemku. Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan, dan perlahan-lahan kepala penisku aku masukkan ke bibir kemaluannya yang sudah basah. Terdengar suara erangannya dan badanya agak mengeliat, sedangkan matanya kelihatan agak sayu.
"Aaah deen.., ooh.., aacch..".
Aku tekan pelan kontolku membelah bibir memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku genjot kontolku dengan keras.
"Aduuh.., deen.. sakiit.., jaangaan deen..."
Langsung aku peluk Inem, kuciumi wajah dan bibirnya. Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat Inem masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

"Hmmpphh.. aachh.. auuchh.. gelii deen.. aacchh.."
"Auuhh.. oohh.., deen.., aahh,.. oough..".
Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan kecil vaginanya di kontolku, pertanda dia sebentar lagi orgasme. Badan Inem terlonjak-lonjak, dan kedua kakinya mengejang sedangkan nafasnya kelihatan megap-megap.
"Oohh.. ahh.. auuhh.. geli deen.. aahh.. ooh..".
"Deen.. si Mbok mau pipiiss.. deen..".
"Seerr.. suurr.. suurr.."
Air mani Inem membasahi kontolku yang masih tertanam di vaginanya.

"Aaah.., deen.., ooh..".
Terdengar erangan kenikmatan panjang keluar dari bibir Inemku. Aku elus wajah cantik Inemku, matanya yang setengah terpejam dan rambut panjangnya yang tergerai menambah keanggunannya. Akupun mulai lagi push-up mengenjot memeknya dan aku tekan dengan keras sehingga kurasakan kontolku menyentuh dinding rahimnya.
"Deen.. oockh.. deen..". Kepala Inempun menengadah ke atas dan matanya membelalak merasakan tusukan kontolku di memeknya.
"Simbook capeek.. deen..".
Akupun semakin cepat mengenjot memeknya dan "croot.. cruut.. croot.. croot.. cruuoot..!". Inemku sempat kaget merasakan ada cairan hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Aku muntahkan cairan pejuhku kedalam rahimnya. Aku langsung ambruk menindih tubuhnya yang banjir keringat.

Setelah keringatku dan Inem sudah mulai agak berkurang. Aku cabut kontolku dari lobang memeknya, terlihat memeknya agak memerah karena terlalu keras aku memompanya dan lendir putih mengalir keluar dari liang kemaluan membasahi pahanya.
Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Inemku. Sekelibat kulihat ada bayangan yang mengintip kejadian tadi 

lanjut : Cerita Ngen**T : Tidur Dengan Pengemis (part 2)

http://www.semprot.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...